Aku dan Shara sedang bergurau. Teman-teman yang lain juga, Icha,
Dhiya, Salsa, Kiara, Siska, Dea, dan semuanya sedang bercanda tawa,
karena dua pelajaran terakhir ini kosong. Kuputar mataku ke segala arah.
Mataku menangkap Intan, temanku. Dia sedang terdiam sendiri.
“Shar,
kenapa tuh si Intan?” tegurku pada Shara yang asyik membaca komik
humornya. Shara tak menggubris. “Woy!! Kayshara Audiva Kyrani!!” seruku.
“Eh iya apa? Siapa? Kapan? Dimana?” Shara latah. “Iuuuhhhh!” seruku.
“Ada
apa Shar? Kok kamu ngagetin aku segitunya siih, Sampe nyebut nama
panjang segala! Komiknya kan seru banget! Ada apa sih??” ujarnya
jengkel.
“Liat deh, kenapa ya si Intan diem terus? Padahal Olla
juga lagi ada di mejanya Alya sama Jasmine, keliatannya sih lagi baca
komik buatn mereka. Biasanya si Intan ikutan?” ujarku.
“Samperin yuk” Tanpa jawab pertanyaanku, tanpa ba bu be bo dia malah menarik lenganku ke meja Intan, yang berada di baris depan.
“INtan.” Sapaku.
“Eh Najma, ada apa Naj?” ia terlihat kaget karena sepertinya sedang melamun.
“Mau nanya. Tapi kamu jawab yang serius ya.” kata Shara.
“Iya” kata Intan singkat.
“Hmmm.. Hmmm.. Hmmm..” aku bingung mulai dari mana. Masa langsung nyerocos, Mencari kata yang tepat dulu, hihi..
“Kamu
kenapa sih, kok dari tadi diem terus? Keliatannya lagi sedih ya? Olla
lagi di meja Jasmine, biasanya kamu ikut” Aku kaget. Shara kok main
langsung nyahut gitu sih. Kucubit pelan paha Shara. Shara melotot.
“Enggak kok.. Aku enggak apa-apaa.. Cuma lagi enggak mau baca komik aja.. tadi aku ngobrol dikit kok sama Olla” katanya, gugup.
“Udah..
Ngaku aja deeehhhh.. Ga bakal bocoriiinnn.. Sumpaaah..” UJarku. Saking
KEPO alias mau tahu aja aku sampe bilang Sumpah-Sumpah segala.. Wkwkwk..
“Janji ya lho.. ini bener-bener rahasia. Eh ya, tapi tadi Najma dari mana?” Intan akhirnya menyerah juga..
“Tadi??
Abis beli seragam yang baruu..Sama bayar SPP atau iuran bulan ini, 250
ribu kan ya Shar?..” kataku, menjawab pertanyaan Intan. “OH”
“Ayo, udah janji dosa lho kalo boong! Kenapa kamu dari tadi diem dan murung teruus?” seru Shara, tak sabar.
“Jangan kasih tau siapa-siapa ya. Sebenernya.. Aku udah nunggak SPP selama 2 bulan.. Jadi 500 ribu
kan..? Tapi gimana mau bayar.? Bapak cuman supir salah satu keluarga,
dan di hari Sabtu bapak ngojek. Gaji bapak perbulan saja kalau tidak
salah kurang lebih 300 ribu, karena bapak sehari kerja Cuma dari jam
8:30 pagi sampai jam 4:30 sore..” Intan menarik napas, “Dan ibu hanya
buka warung kecil disamping rumah doang. Untuk makan, uang lebih kadang
Cuma 20 ribu. Itupun harus dipakai yang lain..” cerita Intan panjang.
Aku dan Shara diam. Intan nunggak SPP 2 bulan berarti jadi Rp500,000
rupiah yang harus dibayar dan lima ratus ribu rupiah itu bukan jumlah
sedikit. Pukul 2:30, bel pulang berbunyi.
Aku sudah mengumumkan jangan pulang dulu semuanya yang perempuan. Kami
bersebelas (di kelasku yang perempuan ada 11), rapat di kelas. Aku
membicarakan masalah Intan. Intan memang anak yang baik, dan tidak
pernah rendah diri walau miskin.
“Gimana kalau jualan?” usul Dea.
“Great, Dea! Di depan kompleks rumah Sunset Valley, komplek aku tiap
jumat, sabtu, dan minggu ada bazaar yang jual makanan sama aksesoris
gitu.. Siapa yang rumahnya di kompleks Sunset Valley” seruku, tiba-tiba
melontarkan usul.
Alya, Shara, Dea, Icha, Priscila, dan Raissa mengangkat tangan. “Gimana
kalau aku, Alya, Shara, sama Dea yang bagian jualan makanan di bazaar
itu, dan Icha, Priscila, sama Raissa bagian jualan aksesori kayak
jepitan, kalung” kataku.
“SETUJU!!!” teriak kami yang rumahnya di kompleks Sunset Valley. “Kalau
soal barang yang dijual? Bisa nggak ikhlas aja beliin barang jualannya?”
ujar Alya.
“Oke.. kita beli aksesori-aksesori di ‘Melody Shop aja, bagus dan murah!” seru Priscila. Icha dan Raissa mengangguk.
“Kita, yang rumahnya nggak di Kompleks Sunset Valley?” Tanya Dena, yang rumahnya di Flowerist Housing.
“Gimana kalau aku, Dena, Jasmine, dan Olla jualan di sekolah ke
adik-adik kelas 1 sampai kelas 4, jepitan yang dibuat dari sedotan,
stiker, sama yang lain?” kata Siska. Setuju semua, dan kami bubar.
Hari Jum’at. Kami pulang pukul 11 siang. Semua sudah sepakat. Aku, Shara, dan Alya akan menjual makanan dan minuman yakni:
- Es Teh Manis
- Donat keju
- DOnat meisis
- Coklat batangan
- Permen lollipop
- Jus jeruk
“Sudah hamper mulai bazarnya! Tuh liat Priscil (panggilan buat Priscila), Icha, Raissa jualan di itu!” seruku.
“Yuk, siap-siap ya! Es the siap, jus jeruk, donat, coklat, lollipop, sudah kan?” absen Dea. “udah” kompakku dan Shara.
Laki-laki pada keluar setelah Shalat Jum’at di Masjid Jami An-Nadaa diseberang bazaar ini. 50% nya pada mampir ke bazaar.
“Kak, es teh manisnya berapa?” Tanya seorang anak laki-laki yang kayaknya sih berumur 7-8 tahunan.
Kami melayani banyak sekali. Alhamdulillah, dari 20 gelas es the
manis, sekotak donat keju, sekotak donat meisis, 15 batang coklat, 10
batang lollipop, dan 10 gelas es jeruk laku semua.
Alhamdulillah, dapat uang 157.500. Tapi pasti maish kurang.
“Pris, Cha, Sa, gimana? Dapet berapa? Laku enggak?” tanyaku bertubi-tubi.
“Alhamdulillah lho Naj, laku semuaa! Ga ada sisa! Dapat 175.500. Alhamdulillah.. Kalau kamu? Gimana?” seru Priscil.
“Alhamdulillah. Aku dapat 157.500. Ga ada sisa!” seru Dea senang. “Gimana ya, Siska, Dena, Jasmine dan Olla?”
“Aku SMS Dena, kata mereka hasil jualan keliling komplek dapet 123.000..
mereka jualan jepit dari sedotan, alat tulis, dll lah” kata Dea.
Senin hari, di sekolah..
Uang baru terkumpul kira-kira Rp 458.000. Masih kurang sedikit lah. Kami
sekelas jualan jepitan, pensil yang dikaish hiasan, penghapus,
penggaris, dan loose leaf pada adik-adik kelas.
Alhamdulillah, digabung terkumpul 115.000. Alhamdulillah!! Lebih..! 573.000! Sorenya..
“Dek Najma, temen kakak ada yang mau bantu temen kamu nih, nyumbang 200.000! Kasihin ya” kata kakakku Adinda.
“Alhamdulillah, makasih berat, bilangin!”
“Dek Najma, ummi certain ke temen ummi, ada yang mau nyumbang 300.000 nih buat temen kamu. Kasihin ya, amanah” kata ummi.
“Wah, Alhamdulillah!” seruku.
“Dek Najma, abi certain tentang teman kamu ke teman abi, ada beberapa
yang mau nyumbang, ini jadi ada 500.000” kata abi malamnya.
“ALHMADULILLAH! Makasih ya..” kataku.
Ku mengajak temen perempuan sekelas 5A konferensi lewat YM.
Najmanabilaaa: Hei, temen temen kakak, umi dan abi aku pada mau nyumbang buat Intan. Ada sejuta, Alhamdulillah..
Jasmine_khainisa09: Bunda mau ikut nyumbang juga, 100.000 Maaf dikit ?
Berarti, ditambah hasil kita 573 ribu, ditambah sumbangan dari najma
satu juta, sumbangan dari bundaku 100.000, trs ktnya ibunya Shara mau
nyumbang 200.000 jadi satu juta delapan ratus tujuh puluh tiga. Gede
banget! Gmn 173.000 nya kt pke beliin dia tas dan alat-alat tulis? klo
spatu dia kan bru dikasih sm Diandra.
Shara_Kyranni: yang beli tasnya Dea, alat tulisnya najma. AKu setuju banget sama jasmine ^_^
Salmadea_audiva123: Boleh tuch.. aku tau toko yg jual tas bagus-bagus
tapi lumayan harganya.. kebetulan ada yg model baru, lagi diskon smpe
lusa. Harganya 90.000. kuat bahannya. Mau ga?
Najmanabilaaa: boleh banget ? ? ?
Denaniratafidha01: RT Najma ^_^
Olla_star: Boleh tuch
Najmanabilaaa: Aku juga ada baru nemu di pertokoan alat tulis lengkap
motif garis-garis, ada pulpen 2, pensil biasa 1, pensil mekanik 1,
penghapus 1, legkaplah.. harganya 22 rb. Mau ga?
Priscila1111: Mau lah. Lagian lebih bagus kalo ngepas satu juta.. bagus juga kan,
Jasmine_khainisa09: Boleh tuh naj. Ntar kasihinnya hari Senin minggu
depan ajaa.. Dea sama najma belinya bisa hari ini/sabtu. Kta bikin
kejutan gt looh
Khairumnisa_icha: SETUJU. Semuanya gimana? Setuju
Shara_kyranni: Setuju lah. Eh kok icha baru nongol.
Risandasiska_: Aku jg bru nongool.. Aq setuju
Najmanabilaaa: Gimana? Kebetulan uang hasil jualan kita sudah di aku
kan? Waktu itu Priscil udah ngasihin waktu ketemuan. Jasmine, km
transferin uang sumbangan bunda km ya, ke rekening bank aq.
Jasmine_khainisa09: iya baru aja bunda transfer
Najmanabilaaa: Dea ketemuan sm aku di taman Sunset Valley
Salmadea_audiva123: Ok, yuuk!
Najmanabilaaa: Udah ya, aku disuruh umi udahan maen computer
Tak ada yang membalas lagi. Tau-tau semua dah offline. Aku dapat
tugas membelikan alat-alat tulis. Aku janjian sama Dea hari ini, pukul
3:30 alias setengah empat. Ini sudah jam 3:20.
“Ummi.. Aku pergi ya! Janjian sama Dea di taman Sunset Valley!” seruku
minta izin. “Iya! Tapi sama kak Adinda! Terus mau kemana?” jawab ummi.
“Oke lah.. Pake sepada! Terus mau ke Disney World! Toko baru itu loh!”
kataku. Disney World itu toko tempat aku mau beli alat-alat tulis. Itu
toko baru, baru 2 hari lalu bukanya, jadi disana ada diskon. Yang kutahu
alat tulis lengkap di diskon 25 persen sementara tas diskon 35%! Gimana
gak ngiler?
“Oh, iya boleh” kkata ummi. Aku pun diantar kak Adinda, pake sepeda,
wkwkwk.. Karena aku sambil membawa uang satu juta delapan ratus tujuh
puluh tiga ribu rupiah! Hasil jualan+sumbangan buat Intan.
Sesampainya di Taman Kompleks Sunset Valley,..
“Dea! Maaf ya telat. Eh kamu mau beli tasnya di toko mana? Aku di Disney
World” Kataku, langsung To The Point. Kulihat kak Adinda menjauh, tak
mau emnguping. Taunya ada kak Dina, kakak Dea.
“Gak telat kok Naj. Dimana? Disney World? Aku ebli tasnya disana juga ah! Ayo!” Dea bangkit. Kita berempat ke Disney World deh.
Di Disney World..
“Wih! Alat tulis ini lengkap nih! Tip-ex, pulpen, pensil, pensil
mekanik, peraut, penghapus, penggaris, plus notes lagi!.. Diskon 25%!
Harganya 32.000! Murahnya! Beli ini aja ya De, buat Intan?” Kataku minta
persetujuan. Dea mengacungkan jempol. Kuambil deh.
“Tasnya yang ini bagus? Lagipula banyak kok anak kelas 5 tasnya ada yang kartun!” kata Dea.
“Tuh, ada yang motif garis-garis dan sakunya gambar Minnie Mouse! Itu
saja! Harganya 89.000! Diskon 30%” kataku. “Iya yah! Bagus, yang kamu
pilih saja.” kata Dea. Kami juga membelikan 5 buah buku tulis. Kami akan
membayarnya menggunakan uang ini, sumbangan untuk intan+hasil jualan.
“Jadi Rp 136.000 rupiah” kata kasir.
AKu menyerahkan uangnya, dua lembar 100 ribu dan menerima kembalian.
Senin..
Aku sudah menyerahkan uang buat Intan, sejumlah.. ah, aku enggak tau, karena 500 ribunya sudah dipaakai bayar SPP Intan.
“Anak-Anak… Bagi yang belum melunaskan SPP Bulan lalu dan sekarang, tolong segera!” seru Bu Nisha.
“Maaf bu baru sekarang! Tadi baru! Aku lupa terus!” Celetuk Faiz. “Iya” kata bu Nisha. “Intan..” kata bu Nisha.
“Maaf Bu. Saya akan segera melunaskannya saat Bapak punya uang” kata Intan pelan. Dari nada suaranya, jelas dia sedih sekali.
“Intan.. SPP bulan ini dan bulan lalu sudah lunas” kata bu Nisha. Semua
mata tertuju kepada INtan dan tersenyum. Yang laki-laki sudah tau lho!
Baiknya, mereka bersedia (yang cowok) jualan dan hasilnya 50.000..
“Sudah lunas? Tapi saya belum bayar bu!” Intan terheran dan kaget.
“Berterimakasihlah pada semua anak kelas ini. Karena mereka bersedia
jualan dan sebagainya untuk memberikanmu uang. Perwakilan dari kelas,
Najma, silakan maju” kata bu Nisha.
Aku segera maju. Bu Nisha memberikan isyarat untuk berbicara.
“Yah.. Ga banyak kata-kata sih buat Intan. Hanya.. ya, kita sekelas,
terutama yang perempuan, karena tau kamu kekurangan uang untuk membayar
SPP kita bersedia berjualan dan mengumpulkan uang. Dan kita sudah
melunaskan SPP-mu sebesar 500 ribu. Terus.. ada beberapa barang juga
buat kamu..” kataku, lalu menyodorkan plastik kreset yang berisi alat
sekolah untuk Intan.
Ada tas, alat tulis, buku tulis, kaus kaki (kita tau kaus kakinya sudah
bolong-bolong), tempat pensil (Kita juga tau tempat pensilnya hanya
berupa kantong kecil), plus kita juga pesan baju seragam sekolah
An-Nadaa yang batik.
Intan menganga. Ia tak percaya itu. Dia menangis terharu. Yang
laki-laki pada lari keluar semua. Yangperempuan akhirnya menangis semua
karena terharu. Jasmine yang membawa kamera digital memotrt-motret dan
akhirnya terjadilah acara narsis-narsisan.
“Terima kasih ya, semuanya” kata Intan, pada kita semua dengan terharu.